Definisi Bahagia

Akhir-akhir ini aku sering kali mendengar beberapa pertanyaan yang sama dari orang-orang terdekatku. "sudah wisuda? IPK nya berapa?", "sekarang kerja dimana? Gajinya berapa?", "Kapan nikah?", "mana gandengannya?"... sejenak ku berfikir, semua itu bukanlah pertanyaan yang bisa kujawab dengan nyaman. aku sudah wisuda, IPK ku bisa dibilang memuaska, aku sudah bekerja di bidang yang kusukai dan gaji ku cukup untuk diriku tanpa menyusahkan orangtua lagi. kapan nikah? mana pacarmu? hanya allah yang tahu kapan aku akan bisa menjawab itu. oke lah, aku bisa menjawab semua pertanyaan tadi, tapi kenapa pula mereka sangat peduli dengan semua itu. apakah dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa menjadi indikator bahagia bagi seseorang.

Aku lulus dari salah satu universitas negeri yang cukup baik pamornya namun aku merasa berada di kolam besar sedangkan aku hanyalah ikan kecil yang tak terlihat dari luar. Aku bersyukur bisa belajar di kampusku ini tapi hal ini tak membuatku bahagia di satu sisi, terlalu banyak hal yang tidak sesuai dengan diriku ketika aku kuliah disini. tapi aku masih bisa melewati 4 tahun ku dengan baik dan normal. setelah luluspun dengan IPK yang menurut kebanyakan orang luar biasa, tapi tetap hal itu tak membuatku bahagia. aku masih kesulitan melamar kerja dengan background pendidikanku. aku measa tak pantas mendapat IPK tersebut dengan kemampuanku yang masih merasa ada yang salah dengan diriku. terkadang, aku sangat ingin IPK ku dikurangi agar beban berat tak kurasa.

selepas lulus kuliah, aku mendapat pekerjaan yang aku sukai dan sesuai dengan bidang yang aku pelajari sejak SMK. gajiku tak sebesar gaji teman - temanku yang lain, bahkan di bawa UMR. tapi aku bahagia dengan pekerjaanku. setiap pagi aku bangun dengan semangat dan memulai hari dengan senyuman. aku bisa membeli kebutuhan sehari-hariku dengan gaji ku tanpa menyusahkan kedua orangtuaku lagi. aku bahagia ketika bisa menikmati apa yang aku kerjakan dengan tulus. meskipun kebanyakan temanku berfikiran, kenapa pula lulusan universitas ternama dengan IPK tinggi mau-mau saja bekerja di tempat seperti itu dengan gaji segitu. aku tak peduli, aku bahagia dengan pekerjaanku saat ini.

Jodoh, siapa yang tahu... seumur hidupku tak pernah sekalipun aku merasakan pacaran. untuk apa aku melakukan hal yang tak berguna seperti itu. aku perna mengaku jika aku memiliki pacar di hadapan teman-temanku, karena aku tak ingin dikatakan kolot dan tak gaul. tapi ujung-ujungnya aku merasa hampa. untuk apa aku berbohong? hanya demi diakui gaul... kini umurku dibilang sudah waktunya untuk menikah. teman-temanku satu persatu mulai melepas masa lajang mereka. undangan pernikahan silih berganti berdatangan ke rumahku, tak jarang pula aku mendapat kabar si A sudah hamil, Si B anaknya sudah balita. aku tahu kedua orang tuaku pun menginginkanku menemukan pasanganku kelak walaupun mereka tak membicarakannya secara langsung kepadaku. tapi bagi orang-orang yang seenaknya bertanya, "kapan kamu nikah?" "mana pacarmu?" mereka adalah golongan orang-orang yang tak tahu tata krama. menikah pilihan setiap orang... aku bahagia dalam keadaan sendiri, aku bahagian dengan kesendirianku... kenapa mereka repot - repot memikirkan kapan aku menikah sedangkan diriku sendiri tak memikirkan hal itu.

bukankah kita merasa damai, tenang, dan selalu ingin bangun untuk memulai hari esok adalah definisi bahagia sesungguhnya? bangun di waktu subuh, dan menyapa sang Allah S.W.T lalu memulai hari dengan semangat, apakah itu tidak bisa di definisikan bahagia? apakah setiap sebulan sekali pulang kerumah orang tua dengan membawa oleh2 kesukaan mereka dan bercanda tawa dengan keluarga tidak di definisikan bahagia? bahkan hanya membawakan kedua orang tua makanan ringan murah pun jika membuat mereka senang sudah membuatku bahagia... sederhana... keluargaku tak butuh hal yang berlebihan untuk bahagia.

aku bahagia sudah terlahir dari keluarga yang sangat hangat dan demokratis. mereka selalu mendengarkan pendapat dan keinginan setiap anggota keluarga kita. aku bahagia di didik oleh bapak dan ibu yang mementingkan kebahagian ank-anaknya di atas segala-galanya, aku bahagia lahir dari mereka yang mengajarkanku bahwa mimpi dan usaha itu harus berjalan beriringan, aku bahagia lahir dari keluarga yang sangat peduli akan pendidikan anak-anaknya, mereka membebaskan kami memilih sekolah yang ingin kita tujuh, meskipun kadang pilihan kita memberatkan mereka, dan aku bahagia mempunyai kedua orang tua yang selalu ada untuk mendengar keluh kesah dan mengapresiasi semua pencapaian kita, entah itu baik atau buruk. aku bahagia lahir di keluarga yang tak memandang harta, karir maupun jodoh sebagai patokan bahagia, aku bahagia karena mereka bahagia melihat dan tahu bahwa anak mereka bisa makan, beribadah, beraktifitas sesuai impian anak2 mereka dan selalu menjaga norma yang berlaku. sesederhana itu definisi bahagia keluargaku.

Komentar